Alfalfa dengan nama latin Medicago Sativa L adalah tanaman hutan liar yang tertua. Tumbuh di pegunungan mediterania di sebelah barat daya Asia. Alfalfa diperkenalkan ke Eropa dari Asia oleh bangsa Persia pada perkiraan tahun 490 sebelum masehi. Kata Alfalfa berasal dari bahasa arab terbagi dalam dua bagian kata yaitu “Al” yang berarti Allah dan “falf” yang artinya ribuan kenikmatan dan manfaat atau orang Yunani menyebut bapak dari segala makanan, ciptaan dan karunia. Habitat asli dari Alfalfa adalah daerah subtropis. Rumput alfalfa sebenarnya merupakan jenis leguminosa ditandai dengan akar yang mempunyai bintil-bintil nitrogen.
Di Indonesia untuk pertama kalinya diteliti dan dikembangkan tahun 2000 oleh Dr. Nugroho Widiasmadi sebagai tenaga ahli Agrowisata Selo Pass Boyolali dan pada tahun 2001 kemudian dikembangkan bersama Indonesia Alfata Centre IAC yang langsung didirikan dan diketuai oleh Dr. Nugroho W Asmadi dibawah Lembaga Penelitian (LEMLIT) Universitas Wahid Hasyim Semarang bersama pakar dari Agroindustri Kung Peng Engineering Taiwan, uji coba pertama dilakukan untuk tanah seluas 1 Ha pada ketinggian 5 m, 800 m dan 2000 m. Sebelumnya pola tumbuh tanaman yang berasal dari daerah subtropis ini sangat sulit tumbuh dengan baik di Indonesia namun dengan riset terpadu yang terus menerus dilakukan maka dengan mengkondisikan iklim mikro bawah tanah permukaan (top soil micro claim) menghasilkan kondisi yang sesuai suhu tropis bagi biji yang sebelumnya berasal dari daerah subtropis.
Uji coba yang dilakukan dengan sistem keseimbangan Interflow tersebut ternyata dapat menumbuhkan dengan baik mulai dari fase perkecambahan, fase tumbuh, sampai panen dan hasil panennya mengandung nutrisi tinggi dan kandungan klorofil sebanyak 4 kali tanaman sayur lain. Tanaman tersebut oleh IAC-UWH kemudian diberi nama Alfata kepanjangan dari Alfalfa Tropika.
Untuk saat ini pihak IAC mulai tahun 2008 juga telah menggandeng PT Hidrasia Alfalfa Persada untuk mempersiapkan lahan produksi dalam persiapan untuk investasi agroindustri Alfalfa. Bersama PT Hidrasia Alfalfa Persada telah menyiapkan lahan produksi untuk kegiatan Agroindustri terpadu. Beberapa lahan di seluruh Indonesia telah diidentifikasi untuk kegiatan terpadu baik pada sektor budidaya, peternakan, perikanan, dan produksi klorofil alfalfa untuk bahan baku obat, suplemen dan makanan minuman.
Sebelum ini tanaman alfalfa sub tropis telah dibudidayakan di Amerika Serikat, Jepang, Australia, Korea untuk memenuhi kebutuhan hijauan bagi ternak sapi, baik sapi perah maupun sapi potong juga ruminansia yang lain. Kekurangan hijauan pada ruminansia akan mengakibatkan penurunan produksi baik susu maupun daging.
Dengan sistem irigasi tersebut yang dapat membantu juga proses pemupukan secara organik yang telah diteliti di Indonesia maka akhirnya dapat menghasilkan jenis Alfalfa yang tumbuh di tropis. Penelitian ini telah dikondisikan dengan sistem penamanan yang didukung sistem irigasi keseimbangan interflow selama hampir lima tahun dan secara kuantitas tanaman tersebut telah menghasilkan produk yang cukup stabil kandungan gizinya dari hasil uji laboratorium Biologi di UGM. Hasil riset Dr. Nugroho Widiasmadi sistem irigasi keseimbangan interflow ini juga telah dicobakan diberbagai Negara tropis seperti Vietnam, India, Malaysia dan Taiwan. Dan semua menghasilkan kandungan yang unggul dari tanaman aslinya di subtropics.
Secara kualitas dan kuantitas alfalfa yang telah dikembangkan tersebut mempunyai keunggulan dari alfalfa sub tropis. Keunggulan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
KRITERIA | ALFALFA SUB TROPIS | ALFALFA TROPIS |
Masa Panen | Tiap 2 bulan sekali | Tiap 21 hari sekali |
Kandunga Protein | 21 % | 32 % |
Usia Produksi | 1 tahun | 3 tahun |
Media Tanam | Tanah Gromosol | Segala Jenis Tanah dengan Model Irigasi Keseimbangan Interflow |
Kuantitas Produk | 10 Ton / Ha | 15 Ton/ Ha |
Tanaman Alfalfaa sangat prima ditinjau dari kandungan protein, lemak maupun serat kasarnya, oleh karenanya rumput Alfata menjadi sangat penting artinya bagi ruminansia. Keunggulan rumput alfata yang lain adalah dapat digunakan sebagai makanan kesehatan bagi manusia, diantaranya sebagai minuman supplement untuk membersihkan racun-racun kimia / radikal bebas yang banyak terkandung dalam makanan sehari-hari yang mengandung pewarna, pengawet dan penyedap. dengan nama komersial Sari Alfalfa, Alfafa Tea dan juga Soft Capsul yang diproduksi oleh beberapa pabrik pharmasi yang cukup terkenal di dunia dan saat ini juga mulai akan di produksi di Indonesia, serta untuk kebutuhan kosmetik. Untuk itu Ibu negara telah memberi masukan pada pada waktu Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat Nasional tahun 2005 di Karang Anyar Jawa Tengah yang berkunjung ke Stand IAC bahwa nantinya masyarakat diharap dapat mengkonsumsi alfata sebagai minuman bergizi baik di desa dan di kota. Ibu negara dan Presiden RI juga telah menikmati minuman berkasiat tinggi untuk kesehatan tersebut yang diproduksi IAC.
Keunggulan rumput alfata dapat dijadikan alternatif lain untuk petani selain menanam tembakau atau tanaman lain yang kurang memberi harapan cerah, atau mungkin apabila ternyata lahan kurang subur. Nilai ekonomis dari tanaman alfata diharapkan dapat meningkatkan penghasilan petani, sehingga kehidupan petani semakin sejahtera. Karena kandungan nitrogin yang amat besar maka tanaman ini akan menyuburkan secara alamiah terhadap lahan yang sebelumnya tidak subur seperti lahan tidur dan lahan tandus.
Kekuatan akar tanaman ini juga luar biasa, karena dari hasil penelitian IAC pada umur satu tahun akar sudah mencapai kedalaman dua (2) meter dengan diameter sekitar 5 cm pada pangkal akarnya. Dan pada umur dua tahun akar dapat mencapai dalaman lima (5 )m. Kondisi ini telah diterapkan pada lahan kemiringan 45° seperti daerah pegunungan, uji coba di Selo Pass yaitu lereng Gunung Merbabu yang dibuat lahan terasering (sabuk gunung) pada ketinggian 1200 meter dpl dan hasil pengamatan dapat menahan laju erosi permukaan tanah sampai 80 %. Sehingga tanaman alfata ini sangat tepat untuk menjaga konservasi tanah di daerah pegunungan atau lahan kritis.
Dalam usaha mewujudkan swasembada daging dan susu nasional maka pengembangan alfalfa sangat diharapan sebagai jenis pakan yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kwalitas daging dan susu. Kita perlu dukung usaha tersebut agar petani di pelosok desa ikut menanam jenis tanaman ini.
BalasHapussaya tertarik, dimana saya bisa mendapatkan benih alfata ?
BalasHapusSudah dapat benihnya?
HapusDimana say bs mndapatkan benih alfata?
BalasHapusPenulis sila hubungi saya untuk jika boleh..trrima kasih..
BalasHapusBagaimana cara mendptkan tanaman herba alfalfa? Dijualkah?
BalasHapusSaya ingin sekali membudidayakan tanaman Alfata ini bersama kelompok tani di desa saya. Bagaimana saya mendapatkan bibit Alfata yg berkualitas Pak?
BalasHapus